Jumat, 03 Mei 2013

Pekerjaan Terbaik Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc.



Pekerjaan Terbaik

Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc.

Pekerjaan terbaik disesuaikan keadaan setiap orang. Yang terpenting, setiap pekerjaan haruslah berisi kebaikan dan tidak ada penipuan serta menjalani kewajiban yang mesti diperhatikan ketika bekerja, serta yang banyak memberikan kemanfaatan untuk orang banyak.

Pekerjaan apakah yang terbaik bagi seorang Muslim? Apakah berdagang lebih utama daripada lainnya? Ataukah pekerjaan terbaik tergantung keadaan setiap individu?

Ada yang pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَىُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

"Wahai Rasulullah, mata pencaharian (kasb) apakah yang paling baik?" Beliau bersabda, "Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual-beli yang mabrur (diberkahi)." (HR. Ahmad 4: 141, hasan lighoirihi)

Pekerjaan yang Thoyyib

Kasb yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah usaha atau pekerjaan mencari rezeki. Asy Syaibani mengatakan, kasb adalah mencari harta dengan menempuh sebab yang halal. Sedangkan kasb thoyyib maksudnya usaha yang berkah atau halal. Sehingga pertanyaan dalam hadis tersebut dimaksudkan “manakah pekerjaan yang paling diberkahi?”

Kita dapat mengambil pelajaran penting bahwa para sahabat tidak bertanya “manakah pekerjaan yang paling banyak penghasilannya”. Namun yang mereka tanya adalah “manakah yang paling thoyyib (diberkahi)”. Sehingga dari sini kita tahu, tujuan mencari rezeki adalah mencari yang paling berkah, dan bukan mencari yang menghasilkan paling banyak. Karena penghasilan yang banyak belum tentu barokah. Demikian penjelasan berharga Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan dalam Minhatul ‘Allam, 6: 10.

Pekerjaan dengan Tangan Sendiri

Ada dua mata pencaharian yang dikatakan paling diberkahi dalam hadis tersebut. Yang pertama, pekerjaan dengan tangan sendiri. Hal ini dikuatkan pula dalam hadis yang lain,

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ دَاوُدَ - عَلَيْهِ السَّلاَمُ - كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan yang ia makan dari hasil kerja keras tangannya sendiri. Karena Nabi Daud ‘Alaihis salam dahulu bekerja pula dengan hasil kerja keras tangannya.” (HR. Bukhari, No. 2072). Bahkan sebagaimana disebutkan dalam hadis ini, mencari kerja dengan tangan sendiri sudah dicontohkan oleh para nabi seperti Nabi Daud ‘Alaihis salam.

Contoh pekerjaan dengan tangan adalah bercocok tanam, kerajinan, mengolah kayu, pandai besi, dan menulis. Demikian disebutkan dalam Minhatul ‘Allam karya Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, 6: 9.

Jual-Beli yang Mabrur

Mata pencaharian kedua yang terbaik adalah jual-beli yang mabrur. Kata Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, jual-beli yang mabrur adalah jual-beli yang memenuhi syarat dan rukun jual-beli, terlepas dari jual-beli yang bermasalah, dibangun di atas kejujuran, serta menghindarkan diri dari penipuan dan pengelabuan. (Lihat Minhatul ‘Allam Syarh Bulughil Maram, 6: 9)

Mana Saja Jual-Beli yang Mabrur?

Sebagaimana dijelaskan, jual-beli mabrur jika memenuhi syarat dan rukun jual beli. Apa saja syarat yang mesti diperhatikan? Di antaranya, (1) Ridho antara penjual dan pembeli; (2) Barang yang dijual mubah pemanfaatannya (bukan barang haram); (3) Uang dan barang bisa diserahterimakan, (4) Tidak ada ghoror (ketidakjelasan).

Ada pun jual-beli yang bermasalah adalah: (1) Jual-beli yang mengandung ghoror seperti jual-beli dengan sistem ijon; (2) Jual-beli yang mengandung riba; (3) Jual-beli yang mengandung dhoror (bahaya) pada pihak lain seperti menimbun barang; (4) Jual-beli yang mengandung pengelabuan; dan (5) Jual-beli yang terlarang karena sebab lain seperti jual-beli pada sholat Jumat, jual-beli di lingkungan masjid dan jual-beli barang yang digunakan untuk tujuan haram. Jual-beli yang mabrur berarti harus meninggalkan jual-beli yang bermasalah ini.

Perintah Giat Bekerja

Hadis yang kita kaji juga menunjukkan agar kita semangat mencari nafkah dan bekerja dengan menempuh jalan yang halal. Perintah ini juga disebutkan dalam firman Allah, yang artinya,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk: 15). Bahkan giat bekerja dalam rangka mencari nafkah adalah jalan yang ditempuh para nabi ‘Alaihimush sholaatu was salaam. Sebagaimana disebutkan, Nabi Daud mendapatkan penghasilan dari hasil keringat tangan sendiri. Sedangkan Nabi Zakariya ‘Alaihis salam bekerja sebagai tukang kayu. Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah menjadi pengembala kambing. Bahkan pernah menjadi pedagang dengan menjualkan barang milik Khodijah Radhiyallahu ‘anha.

Lantas Manakah Pekerjaan yang Terbaik?

Para ulama berselisih pendapat dalam hal ini. Imam Al Mawardi, seorang ulama besar Syafi’i berpendapat, yang paling diberkahi bercocok tanam karena tawakalnya lebih tinggi. Ulama Syafi’iyah lainnya, Imam Nawawi berpendapat, yang paling diberkahi adalah pekerjaan dengan tangan, dan bercocok tanam yang lebih baik dengan tiga alas an: termasuk pekerjaan dengan tangan, tawakal seorang petani tinggi dan kemanfaatannya untuk orang banyak, termasuk pula manfaat untuk binatang dan burung.

Menurut penulis Taudhihul Ahkam, Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Ali Bassam, pekerjaan terbaik disesuaikan keadaan setiap orang. Yang terpenting, setiap pekerjaan haruslah berisi kebaikan dan tidak ada penipuan serta menjalani kewajiban yang mesti diperhatikan ketika bekerja.

Kita dapat berdalil dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Bersemangatlah melakukan hal yang bermanfaat untukmu dan meminta tolonglah pada Allah, serta janganlah engkau malas.” (HR. Muslim, No. 2664). Dan ditambah lagi pekerjaan terbaik adalah yang banyak memberikan kemanfaatan untuk orang banyak.

Semoga Allah memberi keberkahan pada usaha kita dalam mencari nafkah dan bekerja keras. Hanya Allah yang memberi taufik. @ Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 7 Jumadal Ula 1434 H; www.rumaysho.com. (PM)

Majalah Pengusaha Muslim Edisi 38/2013



Tidak ada komentar:

Posting Komentar